Sungguh menarik menyimak perjalanan tim nasional Indonesia di piala AFF 2010 beserta segala hiruk pikuk yang ditimbulkannya belakangan ini. Timnas yang kini berada dalam asuhan Alfred Riedl terlihat seakan sedang membangkitkan kembali semangat kita untuk mendukung timnas setelah sekian lama terpuruk. Di sudut-sudut jalanan dan warung-warung dapat dengan mudah kita dapatkan sekumpulan orang yang antusias menyaksikan setiap pertandingan timnas sambil bersorak-sorai. Kemudian seakan tak mau kalah, acara-acara nobar juga dilakukan di berbagai instansi dan tempat-tempat nongkrong kalangan elite, seperti café dan hotel.
Bahkan keberhasilan timnas ini mampu meningkatkan daya jual masyarakat dan memutar roda perekonomian. Seorang pedagang menjelaskan, biasanya rata-rata per hari pihaknya mampu menjual kaos bola Timnas sekitar 5 - 7 kaos bola dengan omzet sekitar Rp200 ribu. Kini meningkat 15 hingga 20 kaos bola yang terjual dengan omzet Rp600 ribu. Bahkan tak jarang ada yang memesan kaos bola hingga lusinan dengan omzet diatas Rp500 ribu. Ya, mulai dari kelas pengecer hingga distributor berlomba-lomba menjual kaus timnas sepakbola Indonesia, baik asli maupun bajakan.
Euforia semacam ini muncul kali terakhir pada Piala Asia 2007. Tercatat 90.000 penonton memadati Stadion Utama Gelora Bung Karno saat itu. Pemicunya, tak lain kemenangan tuan rumah Indonesia atas Bahrain 2-1 di laga pembuka. Sayangnya, Indonesia gagal melangkah ke babak 8 besar setelah dikalahkan Arab Saudi 1-2 dan Korea Selatan 0-1. Euforia pun meredup setelah itu. Apalagi ditambah semakin terpuruknya prestasi sepakbola Indonesia di pentas internasional. Terakhir, tim sepakbola Indonesia gagal total di SEA Games 2009 setelah kalah dari Laos 0-2 dan Myanmar 1-3.
Namun dalam hiruk pikuk turnamen AFF ini ada beberapa hal yang patut kita soroti, terutama terkait pribadi kita sebagai sebuah bangsa.
Pertama, bangsa ini adalah bangsa yang mudah terlena. Ada sebuah lelucon yang terlontar dari seorang teman saat penulis menonton laga final AFF, “gila! Baru nonton Indonesia masuk piala AFF aja orang-orang udah pada bela-belain berhenti beraktivitas. Gimana kalo Indonesia masuk final piala dunia ya? Bisa-bisa sebulan penuh orang Indonesia ga ada yang kerja tuh!”. Hanya sekedar pengandaian memang, namun bukan berarti hal tersebut tidak mungkin terjadi.
Kedua, bangsa kita memiliki kebiasaan mencari kambing hitam. Ketika timnas kalah kita menyalahkan sinar laser dari penonton Malaysia, kita menyalahkan media, kita mengumpat PSSI, pemerintah dan lain lain. Bahkan ada yang menyalahkan kostum timnas! alasannya karena kostum yang dipakai bukan kostum kandang berwarna merah, seperti yang biasa dipakai di Jakarta saat melibas tim lain pada babak kualifikasi. Luar biasa.
Fenomena lain penulis temukan sembari menonton final. Saat itu penulis menyempatkan diri untuk melihat “kicauan” orang-orang di situs Twitter, yang sebagian besar kita anggap orang-orang yang melek teknologi dan berpendidikan. Tentu kita tak perlu heran dengan kehebatan tweeps di Indonesia yang seringkali membuat berbagai hal menjadi Worldwide Trending Topic. Namun yang menarik kali ini adalah selama pertandingan final ini saja terjadi 4 kali TT dengan topik yang berbeda. #malaysiacheatlaser, #HALID, #upin, #ipin.
Apabila anda tertarik untuk menelusurinya maka anda akan mendapatkan perang kata-kata yang sungguh tidak sedap dipandang. Tentunya kata-kata disana tidak layak untuk menggambarkan kelas para tweeps, yang penulis asumsikan sebagai orang-orang beradab dan berpendidikan. Boleh dikatakan, tweeps yang mengumpat dengan kasar ini hanya akan memperlihatkan bahwa kita adalahbangsa yang tidak bisa sportif menerima kekalahan.
Ketiga, bangsa kita berpikir pendek dan mudah tersulut emosi. Tengok saja kasus kericuhan pembagian tiket di stadion GBK. Kelakuan seperti ini justru memperlihatkan bahwa kita sangat mudah terpancing emosi dan tidak berpikir panjang. Tidakkah saudara-saudara kita itu ingat bahwa kerusuhan yang disebabkan oleh seribu orang dapat membuat 80 ribu lainnya kehilangan kesempatan mendukung tim Indonesia?
Terakhir, bangsa kita adalah bangsa yang mudah lupa. Lupa disini pun bermacam-macam, mulai dari lupa diri, lupa sejarah, lupa potensi, lupa aturan, dan lupa lupa lainnya. Bangsa ini melupakan sejarahnya sendiri ketika pernah bermain dalam kompetisi sekelas piala dunia. Bangsa ini lupa diri oleh ketampanan para pemain-pemain naturalisasi sehingga membuat kita juga lupa akan potensi bangsa kita sendiri. Bahwa diluar sana masih ada jutaan anak bangsa yang memiliki kemampuan mengolah bola dengan baik, diluar sana masih ada ribuan ilmuwan yang siap berkontribusi bagi ibu pertiwi tanpa perlu dinaturalisasi, bahwa diluar sana masih ada ratusan cabang olahraga lain yang telah memberikan prestasi terbaiknya bagi Indonesia.
Dari tulisan ini terlihat jelas bahwa dunia olahraga kita belum mampu menjadi sarana pembentuk pribadi Indonesia yang kuat dan sehat, baik secara fisik dan mental. Masih banyak pekerjaan rumah yang harus diselesaikan dalam rangka menjadikan olahraga kita sebagai wadah pembentuk karakter bangsa. Namun penulis pun tidak mau melakukan kesalahan yang sama, hanya sekedar mencari kambing hitam atas keadaan saat ini. Pada akhirnya, kita sebagai anak bangsa pun memiliki tanggung jawab yang sama dalam membentuk pribadi Indonesia.
Dan dalam waktu yang tersisa sebelum pertandingan final kedua di GBK (semoga), mari kita terus teriakkan dukungan terhadap tim Garuda! Mari kita buktikan bahwa kecintaan kita terhadap timnas kita tidak hanya sebatas dukungan dan pujian di saat kemenangan, tapi juga bersama-sama untuk bangkit dari keterpurukan. Mari kita buktikan bahwa nasionalisme yang terbangun dari kiprah timnas ini bukan nasionalisme semu!
"Karena terjatuh itu biasa, namun bangkit kembali dan merebut kemenangan itulah hal yang luar biasa"



setidaknya mungkin yang bisa kita perjuangkan adalah antusiasme dan nasionalisme rakyat pada sektor2 lainnya
BalasHapuskarena timnas kita belum siap.
BalasHapusbelum siap menang 5x beruntun
belum siap jadi juara
karena pssi belum siap
belum siap sistem tiket yang baik
belum siap bersih
belum siap profesional
belum siap fasilatas yg cukup
karena masyarakat belum siap
belum siap tertib